Sabtu, 10 Maret 2012

PEMBAHASAN SOSIOLOGI KELUARGA LENGKAP


BAB I
KELUARGA DAN MASYARAKAT
A.Pengertian Keluarga
Terdapat beragam  istilah yang bias di pergunakan untuk menyebut keluarga .Keluarga bisa berarti ibu,bapak,anak-anaknya atau seisi rumah.bisa juga disebut batih yaitu seisi rumah yang menjadi tanggungan dan dapat pula berarti kaum yaitu sanak saudara serta kaum kerabat.Definisi lainnya keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang direkat oleh ikatan darah,perkawinan,atau adopsi serta tinggal bersama.
Para sosiologi berpendapat bahwa asal usul pengelompokkkan keluarga bermula dari peristiwa perkawinan.Dari sinilah pengertian keluarga dapat dipahami dari berbagai segi.Pertama,dari segi orang melangsungkan perkawinan yang sah serta di karuniai anak.Kedua,lelaki dan perempuan yang hidup bersama serta memilki seorang anak namun tidak pernah menikah .Ketiga dari segi hubungan jauh antaranggota keluarga,namun masih memilki ikatan darah.Keempat,keluarga yang mengadopsi anak dari orang lain.
Beberapa pengertian keluarga di atas secara sosiologis menunjukkan bahwa dalam keluarga itu terjalin suatu hubungan yang sangat mendalam dan kuat,bahkan hubungan tersebut bisa di sebut dengan hubungan lahir batin.Adanya hubungan ikatan darah menunjukkan kuatnya hubungan yang dimaksud. Hubungan antara keluarga tidak saja berlangsung selama mereka masih hidup tetapi setelah mereka meninggal dunia pun masing-masing individu. Individu masih memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.
Horton dan Hurt memberikan beberapa pilihan dalam mendefinisikan keluarga yaitu:
1.Suatu kelompok yang mempunyai nenek moyang yang sama
2.Suatu kelompok kekerabatan yang disatukan oleh darah dan perkawinan.
3.Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak
4.Pasangan tanpa nikah yang mempunyai anak
5.Para anggota suatu komunitas yangf biasanya mereka ingin disebut sebagai keluarga
B. Fungsi Keluarga
Setelah sebuah keluarga terbentuk ,anggota keluarga yang ada di dalamnya memilki tugas masing-masing.Suatu pekerjaan yang harus dilakukan dalam kehidupan keluarga inilah yang di sebut fungsi.Jadi,fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan didalam atau di luar keluarga.
Fungsi keluarga terdiri dari:
a.Fungsi biologis
Fungsi ini berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan seksual suami istri.Keluarga ialah lembaga pokok yang secara abash memberikan uang bagi pengaturan dan pengorganisasian kepuasan seksual.Kelangsungan sebuah keluarga,banyak di tentukan oleh keberhasilan dalam menjalani fungsi biologis ini.Apabila salah satu pasangan kemudian tidak berhasil menjalankan fungsi biologisnya,dimungkinkan akan terjadinya gangguan dalam keluarga yang biasanya berujung pada perceraian dan poligami.
b.Fungsi Sosialisasi Anak
Fungsi sosialisasi menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak .Melalui fungsi ini keluarga berusaha mempersiapkan bekal selengkap-lengkapnya kepada anak dengan memperkenalkan pola tingkah laku,sikap,keyakinan,cita-cita dan nilai-nilai yang di anut oleh masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan mereka.Sosialisasi berarti melakukan proses pembelajaran terhadap seorang anak.


c.Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia ialah kebutuhan kasih sayang atau rasa di cinta.Kebutuhan kasih sayang merupakan kebutuhan yang sanga penting bagi seseorang yang diharapkan bisa di perankan oleh keluarga.Kecenderungan dewasa ini menunjukkan fungsi afeksi telah bergeser kepada orang lain,terutama bagi mereka yang orang tuanya bekerja diluar rumah.konskuensinya anak tidak lagi dekat secar psikologis karena anak akan menganggap orng tuanya tidak memilki perhatian.
d.Fungsi Edukatif
Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik manusia.Dalam hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan seorang anak dimulai dari bayi,belajar jalan-jlan hingga mampu berjalan.Semuanya diajari oleh keluarga.
Tanggung jawab keluarga untuk mendidik anak-anaknya sebagian besar atau bahkan mungkin seluruhnya telah diambil oleh lembaga pendidikan formal maupun non formal.Oleh karena itu,muncul fungsi laten pendidikan terhadap anak,yaitu melemahnya pengawasan dari orang tua.
e.Fungsi Religius
Dalam masyarakati Indonesia dewasa ini fungsi keluarga semakin berkembang,diantaranya fungsi keagamaan yang mendorong dikembangkannya keluarga dan seluruh aggotanya menjadi insane-insan agama yang penuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Fungsi Religius dalam keluarga merupakan salah satu indicator keluarga sejahtera.
Model pendidikan agama dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
1.Cara hidup yang sungguh-sungguh dengan menampilan penghayatan dan perilaku keagamaan dalam keluarga
2.Menampilkan aspek fisik berupa sarana ibadah dalam keluarga
 berupa hubungan social antara anggota keluarga dan lembaga-lembaga keagamaan.
Pendidikan agama dalam keluarga,tidak saja bisa dijalankan dalam keluarga,menawarkan pendidi kan agama,seperti pesantren,tempat pengajian,majelis taklim,dan sebagainya.
f.Fungsi Protektif
Keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi para anggotanya.Fungsi ini bertujuan agar para anggota keluarga dapat terhindar dari hal-hal yang negativ.Dalam setiap masyarakat,keluarga memberikan perlindungan fisik,ekonoms,dan psikologis bagi seluruh anggotanya.Sebagian masyarakat memandang bahwa serangan terhadap salah seorang keluarga berarti serangan bagi seluruh keluarga dan semua anggota keluarga wajib membela atau membalaskan penghinaan itu.Namun demikian,Fungsi perlindungan dalam keluarga itu lambat laun bergeser dan sebagian telah diambil alih oleh lembaga lainnya seperti tempat perawatan anak,anak cacat tubuh dan mental,anak nakal,anak yatim piatu,orang-orang lanjut usia.
g.Fungsi Rekreatif
Fungsi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang segar dan gembira dalam lingkungan.Fungsi Rekreatif dijalankan untuk mencari hiburan.Dewasa ini tempat-tempat hiburan banyak berkembang di luar rumah karena berbagai fasilitas dan aktivitas rekreasi berkembang dengan pesatnya.Media TV termasuk dalam keluarga sebagai sarana hiburan bagi anggota keluarga.
h.Fungsi Ekonomis
Keluarga berusaha menyelenggarakan kebutuhan pokok, seperti :
·         Kebutuhan akan makanan dan minuman
·         Pakaian untuk menutupi tubuhnya
·         Kebutuhan akan tempat tinggal.
Pada masa lau keluarga di Amerika berusaha memproduksi beberapa unit kebutuhan rumah tangga dan menjualnya sendiri.Keperluan rumah tangga itu,seperti seni membuat kursi,makanan dan pakaian di kerajakan sendiri ayah,ibu,anak,dan sanak saudara yang lain untuk menjalankan fungsi ekonominya sehingga mereka mampu mempertahankan hidupnya.
Seiring dengan perubahan waktu dan pertumbuhan perusahaan serta mesin-mesin canggih,peran keluarga yang dulu sebagai lembaga ekonomi secara perlahan-lahan hilang.Bahkan keluarga yang ada pada mulanya disatukan dengan pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhan sendiri dalam rumah tangganya.Kini,keluarga merupakan suatu kesatuan konsumsi ekonomis yang di persatukan oleh persahabatan.
i.Fungsi Penentuan Status
Dalam sebuah keluarga,seseorang menerima serangkaian status berdasarkan umur,urutan kelahiran,dan sbagainya.Status/kedudukan ialah suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau posisi kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lainnya.Status tidak dapat di pisahkan dari peran.Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seorang yang mempunyai status.Status dan peran terdiri atas dua macam yaitu status dan peran yang ditentukan oleh masyarakat dan status dan peran yang diperjuangkan oleh usaha-usaha manusia.Misalnya wanita adalah status yang ditentukan (ascribed),seseorang mencapai status melalui tahapan tersendiri yang di usahakan (achieved).
C.Bentuk-bentuk Keluarga
Bentuk-bentuk keluarga sangatlah berbeda antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya.
1.Bentuk keluarga di lihat dari jumlah anggota keluarga:
a.Keluarga Batih(Nuclear family)
Keluarga Batih adalah kelompok orang yang terdiri dari ayah,ibu,dan anak-anaknya yang belum memisahkan diri dan membentuk keluarga tersendiri.Keluarga ini bisa juga disebut keluarga conjugal(conjugal family),yaitu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri bersama anak-anaknya.Keluarga Batih(keluarga inti)terdapat pada masyarakat praindustri.Meskipun keluarga lain tidak lepas dari perhatian tekanan pada hubungan antar keluarga rumah tangga tempat dia tinggal.Pola keluarganya berupa pada keluarga inti ialah tempat tinggal yang sama dengan jumlah anggota terbatas.
b.Keluarga Luas(Extended family)
Keluarga luas yaitu keluarga yang terdiri dari semua orang yang berketurunan dari kakek dan nenek yangsama termasuk keturunan masing-masing istri dan suami.Dengan kata lain keluarga luas ialah keluarga batih ditambah kerabat lain yang memilki hubungan erat dan senantiasa di pertahankan.Sebutan keluarga yang diperluas digunakan bagi suatu system yang masyarakatnya mengiginkan beberapa generasi yang hidup dalam suatu atap rumah tangga.
Istilah keluarga luas seringkali digunakan untuk mengacu pada keluarga batih berikut keluarga lain yang memilki hubungan baik dengannya dan tetap memelihara dan mempertahankan hubungan tersebut.Keuntungan keluarga luas yaitu pertama:keluarga luas banyak ditemukan di desa-desa dan bukan pada daerah industry.Keluarga luas sangat cocok dengan kehidupan desa,yang dapat memberikan pelayanan social bagi  anggota-anggotanya.Kedua,keluarga luas mampu mengumpulkan modal ekonomi secara besar.
2.Bentuk Keluarga dilihat dari Sistem yang digunakan:
a.Keluarga Pangkal(Steam Family)
Keluarga Pangkal yaitu sejenis keluarga yang menggunakan system pewarisan kekayaan pada satu anak yang paling tua.Keluarga pangkal ini banyak terdapat di Eropa zaman feudal.Para petani imigran AS dan di zaman Tokugawa Jepang.Pada mas tersebut seorang anak yang paling tua bertanggung jawab terhadap adik-adiknya yang perempuan sampai ia menikah,begitu pula terhadap saudara laki-lakinya yang lainnya.Dengan demikian,pada jenis keluarga ini pemusatan kekayaan hanya pada satu orang.
b.Keluarga Gabungan (Joint family)
Keluarga Gabungan yaitu keluarga yang terdiri atas orang-orang yang berhak atas hasil milik keluarga antara lain saudara laki-laki pada setiap generasi.Disini tekananya hanya pada saudara laki-laki karena menurut adat Hindu anak laki-laki sejak kelahirannya mempunyai hak atas kekayaan keluarga.Kendatipun antarsaudara laki-laki itu tinggal terpisah mereka menganggap dirinya sebagai suatu keluarga gabungan dan tetap menghormati kewajiban mereka bersama termasuk membuat anggran perawatan harta keluarga dan menetapkan anggaran belanja.Disini terlihat bahwa keluarga gabungan didasarkan atas hubungan antara laki-laki yang telah dewasa dan bukan padahubungan suami istri.
3.Bentuk Keluarga dilihat dari status individu dalam keluarga:
a.Keluarga Prokreasi dan Keluarga Orientasi
Keluarga Prokreasi adalah sebuah keluarga yang individunya merupakan orang tua.Adapun orientasi adalah keluarga yang individunya merupakan salah seorang keturunan.Ikatan perkinan ini tidak dengan sendirinya  perkawinan merupakan dasar bagi terbentuknya suatu keluarga baru(keluarga prokreasi) sebagai unit terkecil dalam masyarakat.Namun demikian,perkawinan ini tidak dengan sendirinya menjadi sarana bagi penerimaan anggota dalam keluarga asal(orientasi).Hubungan suami dan istri dengan keluarga orientasinya sangat erat dan kuat.Otonomi dalam mengatur keluarga kadang-kadang berbenturan dengan kepentingan keluarga orientasi bahkan dalam batas-batas tertentu,keluarga orientasi bisa ikut campur dalam mengatur rumah tangga yang mengakibatkan putus ikatan perkawinan
D.Keluarga sebagai inti masyarakat
Keluarga sebagai inti masyarakat dapat dilihat dari dua segi yaitu:
1.Dari urgensi keluarga itu sendiri di tengah-tengah masyarakat.Pada bagian ini keluarga di temapatkan sebagai lembaga social yang sangat penting dibandingkan dengan lembaga lainnya.Penjelasannya mengarah pada argument-argumen yang menempatkan keluarga sebagai lembaga yang tiada bandingannya.
2.Dapat juga di jelaskan melalui sejarah keluarga.Pada bagian ini peran keluarga di tengah-tengah masyarakat memiliki kontribusi penting bagi terbentuknya lembaga-lembaga social pada umumnya.
Keluarga merupakan kelompok social pertama dalam kehidupan social.Didalam kelompok primer ini terbentuklah norma-norma social berupa frame of reference  dan sense of belonging.Didalam keluarga manusia pertama kali memperhatikan keinginan orang lain,belajar sama dan belajar membantu orang lain.
Para sosiolog keluarga meyakini,meskipun perubahan besar terjadi pada setiap lapisan masyarakat,keluarga mendapat tugas penting untuk ikut ambil bagian di dalamnya.Bahkan,keluarga menjadi sumber kepuasan emosional yang terbesar.Secara historis,peran keluarga di tengah-tengah masyarakat jauh lebih penting daripada lembaga social lainnya.
Kelompok sebagai Kelompok Primer
Keluarga merupakan kelompok primer dalam masyarakat.Kelompok primer adalah suatu kelompok yang menyebabkan dapat mengenal orang lain sebagai suatu pribadi secara akrab.Hal tersebut dilakukan melalui suatu hubungan social yang bersifat informal,akrab,personal,dan total yang mencakup banyak aspek dari pengalaman hidup seseorang.
Kelompok primer dipandang penting karena perasaan dan perilaku yang dijalankannya memiliki arti tersendiri. Dalam kelompok primer, seseorang mengemukakan keakraban, simpati dan rasa kebersamaan yang menyenangkan.
E. Keluarga Sebagai Lembaga Sosial
Konsep sosiologis mengenai lembaga berbeda dengan konsep yang umum digunakan. Sebuah lembaga bukanlah sebuah bangunan sekelompok orang dan bukan juga sebuah organisasi. Lembaga (institution) adalah suatu system norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dianggap penting.
Dalam masyarakat yang paling sederhana, keluarga adalah lembaga social satu-satunya. Pekerjaan diatur oleh unit-unit keluarga, sedangkan anak-anak dididik oleh anggota keluarga. Dalam masyarakat seperti ini, tidak dibutuhkan struktur lain diluar keluarga.
Suatu lembaga tidak lagi memiliki anggota, melainkan pengikut. Perbedaan anggota dan pengikut sangatlahh tipis, misalnya lembaga perbankan adalah prosedur yang dibekukan untuk mengelola transaksi keuntungan tertentu. Bankir adalah orang yang memimpin transaksi tersebut. Bank adalah sekelompok bankir yang terorganisasi. Pendidikan adalah lembaga yang berupaya mengatur mekanisme pendidikan. Dalam bentuknya yang kongkrit pendidikan berwujud sebagai universitas, sekolah dasar dan sebagainya.
Proses terjadinya suatu lembaga sangatlah panjang. Mula-mula orang mencari cara praktis dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam pemenuhan kebutuhan itu, dibuatlah norma dan aturan. Dalam terbentuknya aturan bisa tertulis atau tidak tertulis. Aturan itu ada yang mengikat para anggota masyarakat dan ada yang tidak. Kekuatan sebuah aturan dapat diketahui dari acaranya (usage) masyarakat memperlakukannya, kebiasaan (folkways) dan adai istiadat (custom). Bila sudah dilakukan oleh masyarakat, norma tersebut telah melembaga.
Norma yang telah melembaga itu pada akhirnya tumbuh dan berkembang dimasyarakat kemudian membentuk intitusi atau pranata. Terbentuknya pranata dalam sebuah masyarakat, pada dasarnya mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk memberikan pedoman pada anggota masyarakat untuk bertindak, menjaga keutuhan masyarakat, dan mengadakan system pengendalian social (social control)
Akhirnya,muncullah lembaga keluarga dalam masyarakat sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan seksual, perlindungan, kasih sayang dsb. Lembaga keluarga ini kemudian memberikan pengaturan tertentu yang dapat diikuti manusia.






BAB II
SOSIALISASI DALAM KELUARGA
A.Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi dapat di definisikan sebagai suatu proses social yang dilakukan oleh seseorang dalam menghayati(mendarah dagingkan)norma-norma kelompok tempat ia hidup sehingga menjadi bagian dari kelompoknya.
Proses sosialisasi biasanya disertai dengan enkulturasi atau proses pembudayaan,yakni mempelajari kebudayaan yang dimiliki oleh kelompok,seperti adat istiadat,bahasa,kesenian,kepercayaaan,system kemasyarakatan,dan sebagainya.Proses sosialisasi dan enkulturasi ini dilakukan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tahapan tertentu,yang semakin hari semakin meluas,yaitu berawal dari keluarga kemudian meluas ke teman sepermaianan,sekolah,lingkungan kerja dan seterusnya.
B.Pembentukan Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu dengan system kecenderungan tertentu yang dikuti dengan interaksi pada serangkaian situasi.Pembentukan kepribadian selain ditentukan oleh factor pertalian darah atau keturunan juga di pengaruhi factor berikut:
1.      Keteladanan dari orang tua(keluarga)
Proses sosialisasi anak dilakukan dengan cara meniru tingkah laku dan tutur kata orang-orang dewasa yang berada dalam lingkungan terdekatnya.
2.      Warisan biologis orang tua
Setiap manusia normal mempunyai persamaan biologis tertentu,seperti adanya dua tangan pancaindera dan sebagainya.Persamaan biologis ini membantu menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadiandan perilaku semua orang.
3.      Lingkungan fisik
Perbedaaan perilaku kelompok,sebagian besar disebakan oleh perubahan iklim,topografi dan sumber alam
4.      Lingkungan pergaulan
Kepribadian seseorang ditentukan juga oleh hubungan dengan orang lain(lingungan pergaulan).
5.      Keyakinan terhadap agama
Agama mempunyai pengaruh besar untuk membentuk kepribadian seorang individu.
6.      Kebudayaan khusus atau faktor kedaerahan
Kebudayaan daerah dapat menentukan jalan kehidupan manusia walaupun hal itu er di sadari oleh manusia sendiri.
7.      Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda
Adanya cara hidup yang berbeda ini mengakibatkan orang kota mempunyai kepribadian yang berbeda dari orang-orang yang hidup dan di besarkan di desa.
8.      Pekerjaan dan keahlian.
Pekerjaan dan keahlian juga memberikan pengaruh yang besar terhadap kepribadian seseorang.
Ada tiga langkah dalam proses pembentukan cermin diri yaitu:
1.      Persepsi tentang bagaimana kita memandang orang lain
2.      Persepsi tentang penilaian mereka mengenai bagaimana kita memandang
3.      Perasaan tentang penilaian-penilaian itu.
Sebagaimana gambar dalam cermin member bayangan tentang fisik seseorang persepsi orang lain pun memberi gambaran kepada kita.
C.Media Sosialisasi
Media Sosialisasi yang biasa dipakai untuk sosialisasi adalah:
1.      Keluarga.Orang pertama yang mengajarkan hal-hal yang berguna bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia adalah anggota keluarga.Oleh karena itu keluarga dikatakan sebagai tempat pertama dan utama dalam sosialisasi.
2.      Teman sepermainan dan sekolah.Di sekolah dan antara kelompok sebaya serta teman sepermainan.Disini anak mulai mengenal harga diri,citra diri dan hasrat pribadi.Kaidah-kaidah kehidupan seperti ini dijalani oleh anak melalui interaksi.
3.      Lingkungan kerja.Lingkungan kerja merupakan proses sosialisasi lanjutan.Ditempat kerja itulah seseorang mulai berorganisasi secara nyata dalam suatu system.Dan kemudia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari system tersebut.
4.      Media Massa.Dikatakan sebagai sarana dalam proses sosialisasi karena media ini,banyak memberikan informasi yang dapat menambah wawasan untuk lebih memberikan dan memahami keberadaan manusia dan permasalahan yang ada disekitarnya.

D.Tahap Sosialisasi
Sosialisasi dapat dilakukan dengan dua tahap yaitu:
1.      Sosialisasi Primer,yaitu sosialisasi pertama dijalankan individu semasa kecil,yang harus dijalaninya apabila dia akan menjadi anggota masyarakat.Dalam tahap ini sosialisasi primer membentuk kepribadian anak dalam dunia umum.Dalam hal ini keluargalah yang berperan sebagai agen sosialisasi.
2.      Sosialisasi Sekunder,yaitu Proses yang dialami individu yang telah disosialisasikan ke dalam sector baru dari dunia objektif masyarakatnya.Dalam tahap ini individu diarahkan untuk lebih bersikap professional.Lembaga pendidikan dan lembaga lain di luar keluarga merupakan agen sosialisasi sekunder.
Seseorang dapat mengalami proses desosialisasi yaitu proses pencabutan diri yang kemudian disusl dengan sikap resosialisasi yaitu diberikan diri yang baru yang tidak saja berbeda tetapi juga tidak sepadan.Misalnya rumah tahanan yang merehabilitasi para
narapidana,pendidikan militer,rumah sakit jiwa,dan termasuk di dalamnya panti jompo.

E.Sosialisasi sebagai Suatu Proses
Manusia yang tadinya tidak tahu apa-apa kemudian belajar memahami nilai-nilai yang ada dalam kelompoknya.Untuk menjadi anggota yang dapat diterima dilingkungan kelompoknya,seseorang memerlukan suatu kemampuan untuk menilai secara objektif perilaku sendiri dalam pandangan orang lain.Apabila sudah sampai pada tingkat tersebut seseorang sudah memiliki apa yang disebut self(diri).Self terbentuk dan berkembang melalui proses sosialisasi dengan cara berinteraksi dengan orang lain.
Salah satu tanda orang yang sudah memilki self ialah mereka yang sudah bias bertindak sebagai subjek dan objek sekaligus.Charles Horton Cooley sebagaimana di kutip oleh Horton and Hurt memperkenalkan konsep”looking glass self”yang menerangkan dalam benak individu terjadi proses yang ditandai oleh tiga tahap yaitu:
1.      Persepsi,dalam tahap ini orang membayangkan bagaimana orang lain melihat dirinya
2.      Interpretasi dan definisi seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilannya
3.      Respon,berdasarkan persepsi dan interpretasi individu tersebut kemudian menyusun respon.
Terjadinya proses sosialisasi pada seorang anak dilakukan setelah dalam dirinya tertentu self yang diawali  dari cara orang tua mengekspresikan dirinya,kemudian cara tersebut diidentifikasi dan diinternalisasikan menjadi peran dan sikapnya akhirnya terbentuklah self si anak.

F.Sosialisasi Dalam Keluarga
Sosialisasi bagi manusia berlangsung terus selama dia hidup yaitu sejak ia dilahirkan sampai ia meninggal dunia.Setidaknya siklus kehidupan manusia ditentuka oleh beberapa masa yaitu masa kanak-kanak,masa remaja,masa dewasa,masa tua,dan masa kematian.
Sosialisasi pada masa kanak-kanak
Orang tua memilki kewajiban kepada anak-anaknya tentang segala hal.Kewajiban ini merupakan bentuk peran orang tua merupakan bentuk peran orang tua dalam sosialisasi.Pada masa kanak-kanak orang tua merupakan agen tunggal bagi anak dalam bersosialisasi.Proses sosialisasi pada tahap ini digambarkan melalui konsep A-G-I-L yang diperkenalkan Talcott Parsons dalam menganalisis tindakan social.A(adaption),G(goal attainment),I(integration),dan
L(latent).

Sosialisasi pada masa remaja
Pada masa ini seseorang berada pada masa transisi,yaitu meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki usia remaja.Masa ini disebut juga sebagai reverse socialization,yaitu orang lebih muda dapat menggunakan pengaruh mereka kepad orang yang lebih tua.Dengan kata lain recerse socialization berarti orang yang seharusnya disosialisasikan tetapi justru menyosialisasikan.
Agen sosialisasi pada masa remaja bukan lagi orang tua melainkan bteman sebaya,kelompok sepermainan dan mungkin juga lawan jenisnya.

Sosialisasi pada Masa Dewasa
Proses sosialisasi dialami oleh orang dewasa pada saat mereka mendapatkan peran yang baru,bagi orang dewasa,peran baru itu dapat berupa mendapatkan pekerjaan,menikah,peran baru itu dapat berupa mendapatkan pekerjaan,menikah,dan memilki anak.Tiga bentuk peran itu menuntut seseorang melakukan pembelanjaran.Semua peran baru ini menuntut orang dewasa memulainya lagi dari nol sebab ia belajar bersosialisasi kembali.

Sosialisasi pada Masa Tua
Orang lanjut usia sama seperti seorang remaja yang mengalami transisi,yaitu  dari masa orang tua yang produktif ke masa menuju kematian.Pada masa ini ia juga banyak bergantung dengan anak atau saudara-saudaranya.Proses sosialisasi bagi mereka dilakukan secara bertahap.

G.Peran Orang Tua Dalam Sosialisasi
Dalam situasi normal pihak pertama yang dihubungi seorang anak adalah ibunya.Hubungan denga ibu pada tahun pertama lebih erat dibandingkan dengan hubungan terhadap ayah.Semakin anak tumbuh besar pengendalian atau pengawasan dari orang tua perlu semakin ditingkatkan.Pertama-tama perlu disadari bahwa cara pengendalian diri tidak semata-mata terdiri dari paksaan,hukuman,dan seterusnya.
Arti sesungguhnya pengendalian social adalah jauh lebih luas yaitu meliputi segala proses baik yang direncanakan atau tidak yang bersifat mendidik,mengajak atau bahkan memaksa warga masyarakatagar mematuhi kaidah dan nilai social yang berlaku.Wujud pengendalian social dalam keluarga dapat berupa terapi ataupun konsiliasi.Adapun wujudnya dalam masyarakat adalah konsiliasi ditambah dengan pemidanaan dan kompensasi.Terapi dan konsiliasi sifatnya remedial,artinya bertujuan mengembalikan situasi pada keadaan semula yakni sebelum terjadinya perkara atau sengketa.

H.Keluarga Sebagai Sumber Nilai,sikap,dan Norma
Keluarga merupakan sumber utama dan pertama dalam proses penanaman nilai dan norma.Penanaman ini dilakukakan lewat interaksi social.Nilai ialah  gagasan mengenai suatu perbuatan atau pengalaman yang mempunyai arti atau tidak.Seseorang yang telah melakukan interaksi dengan berbagai pengaruhnya akan memberikan kesadaran mengenai adanya nilai-nilai yang ada di sekitarnya.Nilai itu dapat diartikan sebagai sikap dan perasaan yang diperlihatkan oleh seseorang  tentang baik-buruk,benar-salah,suka-tidak suak terhadap objek material maupun non material.
Setelah seseorang mengetahui adanya tata nilai disekelilingnyayang positif dan negative dia akan berfikir dan mengetahui nilai-nilai yang perlu ia kerjakan.Dalam proses berfikir ia kemudian memahami nilai-nilai itu sehingga tertanam (internalisasi)dalam dirinya.Selanjutnya ia mempraktekkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.Nilai-nilai yang sudah dipraktekkan itu lama kelamaan berubah menjadi norma-norma.Norma adalah aturan yang mengandung sanksi untuk mendorong bahkan menekankan orang perongan secara keseluruhan
Norma-norma dibedakan dalam 4 macam yaitu berikut ini:

1.      Norma agama,yaitu norma yang berasal dari Tuhan melalui para nabi untuk disampaikan kepada umat manusia.
2.      Norma Kesusilaan,yaitu norma yang berasal dari hati nurani manusia yang biasanya ditampakkan orang sesuai dengan keyakinan terhadap agama.
3.      Norma kesopanan,yaitu norma yang berasal dari pergaulan masyarakat
4.      Norma Hukum,yaitu norma yang dibuat oleh pemerintah demi terciptanya kehidupan bermasyarakat.



Bagaimana suatu nilai dan norma dalam keluarga terbentuk dapat dilihat pada skema dibawah ini
Kaidah-kaidah
(Kepercayaan,kesusilaan,kesopanan,dan hokum)


 
 

























BAB II
HUBUNGAN DALAM KELUARGA
Hubungan social dalam sosiologi senantiasa menggunakan konsep interaksi social.Interaksi memegang peranan penting buntuk mengetahui hubungan individu dengan individu,individu dengan kelompok,kelompok dengan individu,dan kelompok dengan kelompok.Hubungan suatu individu dan kelompok biasanya dialakukan dengan kontak social dan komunikasi.karena kedua hal itu adalah syarat terjadinya interaksi social.
Uraian mengenai hubungan dalam keluarga dalam bagian ini menggunakan pendekatan interaksionisme melalui suati konsep  interaksi social dan dampak yang ditimbulkannya.
A.Hubungan antara suami dan istri
Dalam perkembangan sejarah, hubungan antar suami-istri pada kelas menengah berubah dari hubungan yang ada pada keluarga yang institusional ke hubungan yang ada pada keluarga yang companionship (Burges dan Locke, 1960). Hubungan antar suami-istri pada keluarga yang institusional ditentukan oleh faktor-faktor di luar keluarga seperti adat, pendapat umum dan hukum. Baru kemudian dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh faktor-faktor tersebut mulai berkurang. Hubungan antar suami istri lebih didasarkan atas pengertian dan kasih sayang timbale terbalik serta kesepakatan mereka berdua.Duvall (1967) menyebut pola hubungan suami-istri dalam keluarga yang institusional sebagai pola yang otoriter, sedangkan pola hubungan suami-istri dalam keluarga yang companionship sebagai pola yang demokratis.
Menurut Scanzoni dan Scanzoni (1981) hubungan suami-istri dapat dibedakan menurut pola perkawinan yang ada. Mereka menyebut ada 4 macam pola perkawinan yaitu owner property, head complement, senior junior partner, dan equal partner.
a.       Pada pola perkawinan owner property,
istri adalah milik suami sama seperti uang dan barang berharga lainnya. Tugas suami adalah mencari nafkah dan tugas istri adalah menyediakan makanan untuk suami dan anak-anak dan menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga yang lain karena suami telah bekerja untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya.
Dalam pola perkawinan seperti ini berlaku norma :
1. Tugas istri adalah untuk membahagiakan suami dan memenuhi
semua keinginan dan kebutuhan rumah tangga suami.
2. Istri harus menurut pada suami dalam segala hal.
3. Istri harus melahirkan anak-anak yang akan membawa nama suami.
4. Istri harus mendidik anak-anaknya sehingga anak-anaknya bisa
membawa nama baik suami.
b.      Pada pola perkawinan yang head-complement,
istri dilihat sebagai pelengkap suami. Suami diharapkan untuk memenuhi kebutuhan istri akan cinta dan kasih sayang, kepuasan seksual, dukungan emosi, teman, pengertian dan komunikasi yang terbuka. Suami dan istri memutuskan  untuk mengatur kehidupan bersamanya secara bersama-sama. Tugas suami masih tetap mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dan tugas istri masih tetap mengatur rumah tangga dan mendidik anak-anak. Tetapi suami dan istri kini bisa merencanakan kegiatan bersama untuk mengisi waktu luang. Suami juga mulai membantu istri di saat dibutuhkan, misalnya mencuci piring atau menidurkan anak, bila suami mempunyai waktu luang. Tugas istri yang utama adalah mengatur rumah tangga dan memberikan dukungan pada suami sehingga suami bisa mencapai maju dalam pekerjaannya. Suami mempunyai seseorang yang melengkapi dirinya.

c.       Pada pola perkawinan senior-junior partner,
posisi istri tidak lebih sebagai pelengkap suami, tetapi sudah menjadi teman. Perubahan ini terjadi karena istri juga memberikan sumbangan secara ekonomis meskipun pencari nafkah utama tetap suami. Dengan penghasilan yang didapat, istri tidak lagi sepenuhnya tergantung pada suami untuk hidup. Kini istri memiliki kekuasaan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan. Menurut teori pertukaran, istri mendapatkan kekuasaan dan suami kehilangan kekuasaan. Tetapi suami masih memiliki kekuasaan yang lebih besar dari istri karena posisinya sebagai pencari nafkah utama. Artinya, penghasilan istri tidak boleh lebih besar dari suami. Dengan begitu suami juga menentukan status sosial istri dan anak-anaknya.
d.      Pada pola perkawinan equal partner,
tidak ada posisi yang lebih tinggi atau rendah di antara suami-istri. Istri mendapat hak dan kewajibannya yang sama untuk mengembangkan diri sepenuhnya dan melakukan tugas-tugas rumah tangga. Pekerjaan suami sama pentingnya dengan pekerjaan istri. Dengan demikian istri bisa pencari nafkah utama, artinya penghasilan istri bisa lebih tinggi dari suaminya. Dalam hubungan ini, alasan bekerja bagi wanita berbeda dengan alasan yang dikemukakan dalam pola perkawinan sebelumnya. Alasan untuk bekerja biasanya          menjadi “sekolah untuk kerja” atau “supaya mandiri secara penuh.” Dalam pola perkawinan ini, norma yang dianut adalah baik istri atau suami mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang, baik di bidang pekerjaan maupun secara ekspresif. Segala keputusan yang diambil di antara suami istri, saling mempertimbangkan kebutuhan dan kepuasaan masing-masing. Istri mendapat dukungan dan pengakuan dari orang lain karena kemampuannya sendiri dan tidak dikaitkan dengan suami. Dalam pola perkawinan seperti ini, perkembangan individu sebagai pribadi sangat diperhatikan.

B.Hubungan antara Anak dengan Orang Tua
Secara umum kehadiran anak dalam keluarga dapat dilihat sebagai faktor yang menguntungkan orang tua dari segi psikologis, ekonomis dan sosial (Horowirz, 1985; Suparlan, 1989; Zinn dan Eitzen, 1990).
Pertama, anak dapat lebih mengikat tali perkawinan. Pasangan suami istri merasa lebih puas dalam perkawinan dengan melihat perkembangan emosi dan fisik anak. Kehadiran anak juga telah mendorong komunikasi antara suami istri karena mereka merasakan pengalaman bersama anak mereka.
Kedua, orang tua merasa lebih muda dengan membayangkan masa muda mereka melalui kegiatan anak mereka.
Ketiga, anak merupakan simbol yang menghubungkan masa depan dan masa lalu. Dalam kaitan ini, orang tua sering menemukan kebahagiaan diri mereka dalam anak-anak mereka, kepribadian, sifat, nilai, dan tingkat laku mereka diturunkan lewat anak-anak mereka.
Keempat, orang tua memiliki makna dan tujuan hidup dengan adanya anak.
Kelima, anak merupakan sumber kasih sayang dan perhatian.
Keenam, anak dapat meningkatkan status seseorang. Pada beberapa masyarakat, individu baru mempunyai hak suara setelah ia memiliki anak.
Ketujuh, anak merupakan penerus keturunan. Untuk mereka yang menganut sistem patrilineal, seperti Cina, Korea, Taiwan, dan Suku Batak, adanya anak laki-laki sangat diharapkan karena anak laki-laki akan meneruskan garis keturunan yang diwarisi lewat nama keluarga. Keluarga
yang tidak memiliki anak laki-laki dianggap tidak memiliki garis keturunan, dan keluarga itu dianggap akan punah.
Kedelapan, anak merupakan pewaris harta pusaka. Bagi masyarakat yang menganut sistem matrilineal, anak perempuan selain sebagai penerus keturunan, juga bertindak sebagai pewaris dan penjaga harta pusaka yang diwarisinya. Sedangkan anak laki-laki hanya mempunyai hak guna atau hak pakai. Sebaliknya, pada masyarakat yang menganut sistem patrilineal, anak laki-lakilah yang mewariskan harta pusaka.
Kesembilan, anak juga mempunyai nilai ekonomis yang penting. Di daerah pedesaan Jawa, anak sudah dapat membantu orang tua pada usia yang sangat muda. White (1982) menemukan bahwa umumnya anak mulai teratur membantu orang tua pada usia 7-9 tahun, tetapi juga ditemukan beberapa kasus anak yang membantu sejak mereka berumur 5-6 tahun. Anak laki-laki biasanya mengumpulkan rumput, memelihara ternak,mengolah sawah atau pekarangan, menjaga adik, dan mengambil air.Semakin besar usia mereka, semakin berat pekerjaan yang harus mereka
lakukan.Studi tentang hubungan orang tua – anak biasanya hanya membahas fungsi anak terhadap orang tua dan bukan sebaliknya.
Fungsi orang tua terhadap anak dianggap sudah seharusnya berlangsung karena orang tua bertanggungjawab atas anak-anak mereka. Padahal tidak sedikit bantuan yang diberikan oleh orang tua meskipun anak seharusnya sudah bias menghidupi diri mereka sendiri. Bantuan yang diberikan oleh orang tua misalnya, memberi tumpangan tempat tinggal pada anak mereka yang sudah dewasa termasuk mereka yang sudah menikah.
Berbeda dengan di Negara Barat, di mana pada umur 18 tahun biasanya anak sudah meninggalkan rumah orang tua, di Indonesia anak biasanya masih tinggal bersama dengan orang tua sampai mereka menikah. Bila setelah menikah mereka belum mendapatkan rumah, biasanya orang tua juga mengizinkan anak, mantu dan bahkan cucu untuk tinggal bersama-sama. Sehingga kini dikenal dengan istilah tinggal di “pondok mertua indah”.Orang tua juga biasanya membiayai sekolah anak sampai ke perguruan tinggi.
Tidak jarang orang tua juga memberi bantuan keuangan pada anak mereka yang sudah menikah tetapi belum mempunyai penghasilan yang cukup. Lewis (1990) mengutip beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pada usia menengah (middle age), orang tua member banyak bantuan pada anak mereka yang sudah menikah. Banyak bantuan diberikan dalam bentuk hadiah, khususnya anak perempuan, sehingga peran menantu pria tidak dilecehkan. Bantuan seperti ini memang diharapkan karena orang tua mampu menolong secara finansial pada usia menengah dalam daur hidup mereka.
Pada usia menengah biasanya orang tua berada pada puncak karir mereka, sementara anak mereka yang baru menikah umumnya baru merintis karir. Orang tua juga biasanya menjadi tempat penitipan cucu. Dengan makin banyaknya wanita bekerja di luar rumah, dan semakin sulitnya mencari pembantu yang mengurus anak, cucu biasanya dititipkan ke rumahkakek dan nenek mereka.Bantuan yang diberikan oleh orang tua dapat dilihat sebagai hubungan ketergantungan anak pada orang tua,
 tetapi Lewis (1990) melihatnya sebagai hubungan saling ketergantungan antara orang tua – anak. Pertama, orang tua berharap bila mereka membutuhkan bantuan anak akan menolong mereka. Kedua, menolong anak merupakan kepuasan secara emosional. Hubungan orang tua – anak ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.Adams, seperti yang dikutip oleh Lewis (1990) menemukan bahwa kedekatan tempat tinggal tidak berpengaruh pada bantuan keuangan, tetapi pada jasa yang diberikan pada anak. Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah lamanya pernikahan anak, jenis kelamin anak, kelas sosial,kesepakatan antara ibu dan ayah, dan persamaan budaya dalam perkawinan

C.Beberapa masalah dalam hubungan remaja dan orang tua
Fenomena hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan remaja telah lama menjadi kekhawatiran masyarakat di berbagai belahan dunia.Ada suatu asumsi yang masih perlu diuji keabsahannya bahwa orang tua dan para remaja berada dalam pertentangan yang lebih sering terjadi pada bangsa-bangsa modern dibandingkan dengan kurun waktu yang lalu.
Padahal para remaja memilki persamaan dengan orang tua dalam politik,moral,selera makanan,dan pakaian.Namun entah mengapa,dalam hubungannya dengan orang tua,pertentangan lebih dominan mewarnai hubungan mereka.
Remaja adalah generasi yang berumur 15tahun sampai 20 tahun.Apabila mereka bersekolah batasannya adalah mereka yang belajar di tingkat SLTP,SLTA,dan tahun tahun awal memasuki perguruan tinggi.
Perbedaan dan pertentangan antara remaja dan orang tua secara universal disebabkan adanya perubahan social yang cepat.Melalui perubahan itu terciptalah konflik tersebut karena adanya alasan perbedaan yang sifatnya intrinsic dan perbedaan yang sifatnya ekstrinsik.Terjadinya konflik antara orang tua dan remaja disebabkan perbedaan cara pandang orang tuadi satu sisi dan perbedaan visi lainnya pada remaja.

D.Hubungan Antarsaudara
Hubungan antar saudara bisa dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur,jumlah, jarak kelahiran, rasio saudara laki terhadap saudara perempuan,umur orang tua pada saat mempunyai anak pertama, dan umur anak mereka keluar dari rumah (Schvaneveldt dan Ihinger, 1979).Kedekatan emosi, harapan akan adanya tanggung jawab saudara,dan konflik antar saudara (siblings), dianggap sebagai faktor yang penting dalam interaksi antar mereka (Lee, Mancini dan Maxwell, 1990).
Kedekatan emosi termasuk adanya rasa ingin berbagai pengalaman, kepercayaan,perhatian, dan perasaan senang dalam hubungan tersebut. Scott (1990) mengutip beberapa penelitian yang menemukan bahwa secara emosi hubungan antar saudara baik laki-laki maupun perempuan pada usia lanjut lebih erat dibandingkan ketika mereka masih pada usia sebelumnya. Lebih besarnya kebutuhan pada usia lanjut, perasaan yang kuat sebagai keluarga,perubahan persepsi karena perbedaan usia, adalah beberapa alasan yang bisa disebutkan untuk membedakan kedekatan emosi tersebut. Pada masa usia lanjut, saudara penting untuk saling memberikan dukungan danperhatian.Salah satu faktor yang mempengaruhi kedekatan hubungan antar saudara adalah kompisisi gender.
 Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan antar dua (dyad) saudara wanita di usia lanjut lebih kuat dibandingkan dengan hubungan antar dua (dyad) saudara pria. Bahkan hubungan (dyad) yang mengandung unsur satu saudara wanita akan lebih kuat daripada hubungan (dyad) antar saudara pria saja (Scott, 1990). Lebih kuatnya hubungan pada saudara wanita dibanding saudara pria bisa didasarkan atas asumsi bahwa wanita diharapkan untuk lebih
memperhatikan masalah-masalah yang ada dalam keluarga, termasuk merawat anak, melayani suami, merawat orang tua mereka yang sudah lanjut usia, dan juga menjaga hubungan dengan saudara mereka.
Harapan terhadap wanita untuk membina hubungan dengan anggota keluarga sudah ditanamkan sejak kecil. Kaum pria dianggap orang yang berorientasi pada pekerjaan, mampu mengendalikan diri, dan siap terjun ke dalam dunia yang sangat kompetitif. Sehingga pria umumnya tidak mampu menunjukkan emosinya dan takut emosinya terluka. Oleh karena itu lebih sulit bagi mereka untuk membina hubungan yang mendalam dengan orang lain, khususnya
dengan sesama pria karena biasanya hubungan antar pria dibangun atas dasar kompetisi (Keadilan, 1993).

E.Hubungan Keluarga dan Tetangga
Terjadi pergeseran komunikasi antara keluarga dengan tetangga pada masa dulu dengan sekarang.Dalam masyarakat pedesaan,hubungan social dijadikan tolak ukur tingginya solidaritas antarmasyarakat.Hubungna dengan tetangga pada masyarakat desa berjalan seperti sebuah keluarga.Oleh karena itu hubungan keluarga dan tetangga sangat erat.Dalam masyarakat desa hubungan seseorang didasarkan atas fungsinya bukan atas dasar statusnya.

2 komentar:


  1. Inilah Saatnya Menang Bersama Legenda QQ

    Situs Impian Para pecinta dan peminat Taruhan Online !!!

    Kami Hadirkan 7 Permainan 100% FairPlay :

    - Domino99
    - BandarQ
    - Poker
    - AduQ
    - Capsa Susun
    - Bandar Poker
    - Sakong Online

    Fasilitas BANK yang di sediakan :

    - BCA
    - Mandiri
    - BNI
    - BRI
    - Danamon

    Tunggu apalagi Boss !!! langsung daftarkan diri anda di Legenda QQ

    Ubah mimpi anda menjadi kenyataan bersama kami !!!
    Dengan Minimal Deposit dan Raih WD sebesar" nya !!!

    Contact Us :
    + website : legendapelangi.com
    + Skype : Legenda QQ
    + BBM : 2AE190C9

    BalasHapus